Peningkatan konsentrasi emisi karbondioksida (CO2) menjadi penyebab utama pemanasan global (global warming) yang semakin mengkhawatirkan belakangan ini. Efek rumah kaca yang dihasilkannya menyebabkan suhu bumi terus meningkat. Dampaknya bisa kita rasakan saat ini; cuaca yang panas bisa mencapai 35 derajat celcius, membuat tubuh menjadi gerah, bahkan pada musim hujan sekalipun.
search
Kamis, Mei 30, 2013
Teknologi Hijau, Solusi untuk Bumi
Peningkatan konsentrasi emisi karbondioksida (CO2) menjadi penyebab utama pemanasan global (global warming) yang semakin mengkhawatirkan belakangan ini. Efek rumah kaca yang dihasilkannya menyebabkan suhu bumi terus meningkat. Dampaknya bisa kita rasakan saat ini; cuaca yang panas bisa mencapai 35 derajat celcius, membuat tubuh menjadi gerah, bahkan pada musim hujan sekalipun.
Minggu, Mei 05, 2013
Sabtu, Desember 01, 2012
Tayangan TV Mengancam Anak Kita
Sejatinya, televisi berfungsi sebagai media komunikasi, informasi, dan dengan sendirinya juga sebagai media pendidikan. Tentu saja tidak ada yang kontroversial dengan fungsi tersebut. Namun dalam perkembangannya belakangan ini, pengusaha media televisi ternyata lebih mengutamakan sisi bisnis dalam menjalankan media tersebut. Silang pendapat pun muncul karena persepsi, perspektif, dan kepentingannya kemudian bisa menjadi berbeda-beda.
Biasanya persoalan rating menjadi alasan utama ketika pengusaha televisi lebih memilih untuk menayangkan sinteron dengan cerita bertele-tele atau film televisi (FTV) tentang cinta, ketimbang menyajikan tayangan bermuatan pendidikan. Bahkan, belakangan tayangan reality show yang kebanyakan sudah diatur alur ceritanya juga ikut meramaikan dunia pertelevisian dalam negeri.
Tak heran jika kemudian muncul pendapat bahwa siaran televisi dianggap sebagai salah satu penyumbang terbesar terhadap kerusakan moral anak-anak. Penilaian banyak kalangan bahwa banyak tayangan televisi yang tidak memberikan nilai positif terhadap anak-anak menjadi pertimbangan penting. Malah banyak isi tayangan televisi yang tidak layak dikonsumsi anak-anak.
Ideologi Televisi
Seperti dikatakan Garin Nugroho, "Ia seperti Dewa Janus, penyelamat sekaligus penghancur. Televisi adalah meta-medium, instrumen yang tidak hanya mengarahkan pengetahuan tentang dunia, tetapi mengarahkan kita bagaimana mendapatkan pengetahuan" (Kompas, 10 September 1996). Televisi menawarkan ideologinya sendiri yang khas.
Seringkali televisi mencampuradukkan berbagai realitas pengalaman kita yang berlainan, karena tak adanya batasan yang jelas dan riil dalam setiap tayangan televisi. Kesulitan mengidentifikasi pengalaman pribadi yang sebenarnya; antara khayalan dan kenyataan, menjadi persoalan besar yang (malah) sering terlupakan. "Sebagai akibatnya, masyarakat kita bingung, gagap, tak berdaya, mengalami konflik, dan gegar budaya," tambah Dedy Mulyana dalam Jurnal Sosioteknologi Edisi 15 Tahun 7, Desember 2008.
Ungkapan Taufik Abdullah bahwa budaya televisi adalah "budaya pop" yang melarutkan identitas kita dalam keseragaman yang dangkal sehingga kita kehilangan kemampuan untuk mendefinisikan jati diri bangsa kita (Kompas, 14 April 1997), ternyata juga relevan dalam persoalan ini. Ini menjadi kenyataan, saat melihat banyak hilangnya jati diri dari generasi muda bangsa ini.
Televisi pada hakikatnya melakukan penetrasi yang lebih besar terhadap kehidupan kita dari pada ideologi-ideologi konvensional yang kita kenal selama ini. Hanya saja caranya begitu halus sehingga sulit terdeteksi. Ketika pesan-pesan yang disampaikan oleh televisi mulai menyimpang dari ideologi masyarakat Indonesia pada umumnya, tentu ini harus dipersoalkan. Apalagi, jika terjadi eksploitasi yang berlebihan dalam kehidupan seseorang yang ditayangkan; hanya karena pertimbangan bisnis.
Ketika media massa seperti televisi tunduk kepada kepentingan modal, kepentingan moral untuk masyarakat bisa menjadi ambivalen. Bahkan, media massa bisa tidak mempunyai kepekaan atas perasaan masyarakat. Media massa bisa kehilangan imajinasi dan fantasinya tentang masyarakat. Yang ia lihat, masyarakat adalah sederetan angka penting. Semakin tergantung masyarakat padanya, media massa itu akan semakin merasa sukses.
Ancaman Tersembunyi
Masalahnya sekarang, televisi tidak hanya memberikan ruang diplomasi virtual, tetapi juga menciptakan kesadaran baru. Media ini memberikan proses learning social norms yang lebih intensif daripada lainnya. Tentu saja dampaknya bisa baik, dan bisa buruk. Namun jika televisi dihadapi dengan ketidakkritisan, ia lebih cenderung berakibat buruk.
Itulah yang terjadi saat ini di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Kita belum punya kemampuan yang besar untuk menyaring setiap "godaan" yang diperlihatkan dalam tayangan-tayangan televisi. Apalagi jiga dengan mempertimbangkan daya ekonomi dan daya tawar masyarakat kita yang tidak merata. Hal ini pula yang kemudian mengancam anak-anak dengan yang setiap hari tidak bisa dari tayangan televisi.
American Academy of Pediatrics (AAP) dalam publikasi di jurnal ilmiahnya, "Pediatrics", pernah membuat pernyataan tentang pengaruh televisi terjadap anak; yang kemudian menimbulkan reaksi pro dan kontra. "…bahwa 2 tahun pertama seorang bayi adalah masa yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan otak, dan dalam masa itu anak membutuhkan interaksi dengan anak atau orang lain. Terlalu banyak menonton TV akan memberi pengaruh negatif pada perkembangan otak. Hal ini benar, terutama bagi usia yang masih awal, di mana bermain dan bicara sangatlah penting…"
Lebih lanjut, AAP mengeluarkan pernyataan tidak merekomendasikan anak di bawah 2 tahun untuk menonton TV. Sedangkan untuk anak yang berusia lebih tua, AAP merekomendasikan batasan menonton TV hanya satu atau dua jam saja, dan yang ditonton adalah acara yang edukatif dan tidak menampilkan kekerasan. Sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari 3.000 anak usia 3 tahun, juga menemukan bahwa anak-anak yang terlalu sering menonton TV, secara langsung atau pun tidak, akan berisiko untuk memamerkan perilaku agresif (Kompas, 11 Juli 2011).
Pada kenyataannya, perilaku yang ditirukan anak-anak memang tidak sekadar bersifat fisik dan verbal, melainkan juga malah turut mempraktikkan nilai-nilai yang dianut tokoh-tokoh yang dilukiskan dalam setiap tayangan televisi yang ditontonnya. Pengaruh televisi memang tidak langsung terlihat, namun terpaan yang berulang-ulang pada akhirnya dapat mempengaruhi sikap dan tindakan penonton; dalam artian efeknya baru akan terasa setelah waktu yang lama.
Matikan TV!
Seharusnya para pengusaha media televisi sendiri bisa memikirkan bagaimana membuat program-program yang bermutu, menarik dan memberdayakan masyarakat, selain secara finansial menguntungkan. Jangan hanya sekedar menghitung, berapa keuntungan yang harus didapatkan dari program-program sinetron ataupun reality show yang tak jelas juntrungan dan manfaatnya.
Kita lupa bahwa mayoritas masyarakat kita tidak mendapatkan pendidikan yang maksimal, dan karenanya kurang kritis. Kita juga lupa bahwa sebagian besar dari pemirsa adalah anak-anak yang cenderung meniru apa yang mereka lihat dari televisi. Karenanya, keberadaan benda ini sangat besar pengaruhnya dalam proses pembentukan pola pikir dan karakter perilaku suatu masyarakat. Sehingga keberadaannya sangat penting dalam melakukan propaganda untuk kepentingan-kepentingan tertentu.
Semua ini memang tak bisa juga hanya menyalahkan para pengelola televisi. Kita juga harus melihat tingkat kesanggupan masyarakat kita untuk menerima semua konten tayangan televisi. Setiap individu, keluarga dan masyarakat memiliki tugas masing-masing untuk senantiasa membentengi dan mengingatkan diri sendiri, keluarga dan masyarakat dari berbagai pengaruh asing yang datang dan menggerogoti melalui televisi.
Seiring itu pula muncul seruan kampanye hari tanpa televisi pada Minggu, 25 Juli 2010 lalu, bersamaan dengan peringatan Hari Anak Nasional 23 Juli. Dengan kampanye ini, orangtua harus lebih memperhatikan pola kebiasaan anak menonton televisi; dengan tidak menghidupkan televisi selama satu hari. Harapannya, ketergantungan anak-anak akan siaran televisi bisa dikurangi.
Kita harus berani mengambil sikap tegas dalam membentengi diri kita sendiri dan terutama keluarga untuk menghindari nilai-nilai negatif dari televisi. Bahasa gampangnya, kita harus berani mematikan televisi ketika acara yang ditayangkan sama sekali tidak bermanfaat dan tidak mendidik. Seperti yang ditulis Sunardian Wirodono (2006) dalam bukunya tentang dampak negatif televisi; "Bunuh saja, TV-mu!"
* Dimuat di Harian Analisa (Sabtu, 28 Juli 2012)
Sumber: http://www.analisadaily.com/news/read/2012/07/28/65553/tayangan_tv_mengancam_anak_kita/
Senin, April 18, 2011
Youtube dan Cara Cepat Jadi Artis
"The medium is the message," tulis Marshall Mc Luhan pada tahun 1964 dalam bukunya Understanding Media: The Extension of Man.
Pemikiran itu disampaikannya jauh sebelum dunia mulai ‘dikuasai’ oleh berbagai social media; Facebook, Twitter, hingga Youtube. Saat itu, kebanyakan studi mengenai media lebih terfokus kepada isi (content), daripada medianya itu sendiri.
Namun, McLuhan malah mengajukan pendapat yang melawan arus; bahwa sebenarnya medianya itu sendiri yang berpengaruh besar terhadap khalayak, bukan hanya kontennya. McLuhan mengibaratkan konten media hanya sebagai "a juicy piece of meat" yang mampu mengalihkan perhatian khalayak untuk menyaksikannya, hingga kemudian menjadi berita besar.
Selama ini, kita luput memahami lebih jauh, dan hanya sibuk melihat yang ada di depan mata. Padahal, karateristik dari media itu lebih beperan dalam mengubah prilaku masyarakat yang mengonsumsinya. Dalam prosesnya, kita tidak sadar bahwa media secara tidak kentara telah mengubah norma dan cara kita melakukan sesuatu, karena teknologi yang dibawanya.
Social Media
Dewasa ini, kehidupan kita sudah dipenuhi dengan aktifitas dalam berbagai social media. Mulai dari nge-blog, sampai chatting dan nge-wall di Facebook dan nge-tweet di Twitter. Dahsyatnya, melalui media ini kita dapat menyaksikan dengan sekejap mata bagaimana revolusi terjadi di Jazirah Arab, hingga tsunami menyapu sebagian wilayah Jepang, beberapa waktu lalu.
Hal terpenting, media sosial ini telah banyak mengubah prilaku kita. Contohnya, undangan pernikahan. Dulu, undangan ini selalu dicetak hingga ratusan eksemplar dan kemudian diantarkan ke masing-masing orang yang diundang. Ini menjadi tradisi yang begitu mengakar sejak waktu yang lama, meskipun begitu banyak waktu dan biaya yang harus disiapkan hanya untuk undangan ini.
Namun, sekarang Facebook bisa menjadi media untuk menyampaikan undangan itu secara efisien dan efektif. Hampir setiap bulan, terutama di pertengahan dan akhir tahun, penulis menerima undangan pernikahan dari rekan sejawat melalui Facebook. Jika sempat terpikir hal ini akan membuat seseorang merasa tidak dipentingkan, maka sekarang ini sudah manjadi sesuatu yang lumrah.
Inilah yang selama ini tidak pernah kita sadari, bahwa media secara tidak langsung telah menggeser norma dan nilai-nilai kita dalam bermasyarakat. Karena teknologi ini, telah tercipta perubahan akibat implikasi sosial dari media tersebut. Melalui interaksi dalam social media ini, preseden terhadap sejarah pun terpengaruhi oleh efek sekunder atau tersier dalam suatu kaskade interaksi.
Fenomena Youtube
Belakangan, Youtube pun mulai menarik perhatian di Indonesia. Padahal, selama ini salah satu social media ini bukanlah situs internet yang akrab dengan masyarakat Indonesia, jika dibandingkan dengan Facebook dan Twitter. Namun, Youtube ternyata juga mampu menciptakan fenomena baru, terutama dalam membentuk public figure baru di dunia entertaint.
Sebelumnya, Youtube telah melahirkan bintang muda di negeri Paman Sam, yang kemudian melejit menjadi salah satu artis terlaris di dunia. Remaja bernama Justin Bieber yang sebelumnya bukanlah siapa-siapa, tiba-tiba saja mengagetkan dunia dengan suara emasnya. Dalam sekejap, ia mampu menyihir mata dan telinga banyak orang, hingga mendadak menjadi seterkenal Barrack Obama.
Itu jugalah yang terjadi di Tanah Air. Sinta-Jojo menjadi contoh pertama. Dengan modal aksi yang lucu dan lypsinc mengikuti lirik sebuah lagu dangdut, kedua mojang Bandung itupun mendadak jadi artis. Bahkan, mereka pun bisa merasakan tampil bernyanyi di atas panggung dan disorot kamera dengan suaranya sendiri; tidak lagi lpsync. Semua hanya dengan modal iseng semata.
Fenomena itupun diikuti oleh Bona Paputungan dengan lagunya Andaiku Gayus Tambunan. Berbeda dengan Sinta-Jojo, Bona langsung menampilkan suaranya sendiri melalui lagu ciptaannya yang bercerita pengalamannya selama di penjara. Begitupun dengan seorang warga Lombok, Udin yang tiba-tiba menjadi artis berkat lagunya Udin Sedunia.
Mendadak Artis
Terakhir, nama Briptu Norman Kamaro menjadi sorotan media massa di negeri ini. Akibat lpsync dan gaya uniknya mengikuti sebuah lagu India, ia pun diburu oleh para pencari berita. Meski sempat terancam hukuman oleh satuannya di Brimob Polda Gorontalo, namun banyak orang mendukungnya hingga akhirnya Briptu Norman pun mendadak jadi artis.
Fenomena ini telah membuktikan bahwa masyarakat kita begitu dengan mudahnya dipengaruhi oleh media. Apalagi, kebutuhan kita saat ini, dimana sesuatu yang baru dan unik jauh lebih menarik dibandingkan dengan hal-hal yang sudah lumrah, meskipun jauh lebih tenar dan terkenal. Standar untuk menjadi terkenal itupun mulai bergeser, dengan dipertimbangkannya unsur menarik.
Media pula yang membuka mata kita, bahwa dunia berubah dengan cepat. Sekat-sekat etnisitas, budaya, warna kulit, agama, dan bahasa tidak bisa lagi dibendung, seperti dulu yang jelas sekali pembedaannya.
Sekarang, seorang musisi kampung sekalipun bisa menjadi artis, jika masyarakat bisa terhibur olehnya. Apalagi, media ikut membuatnya semakin menarik, dengan terus mengulasnya.
Menjadi artis saat ini, ternyata bisa seinstan yang dialami oleh Sinta-Jojo, Bona Paputungan, Udin dan Briptu Norman. Meski pun awalnya mereka tidak pernah berniat dan menyangka bisa mendadak jadi artis, namun perubahan drastis dalam kehidupan mereka benar-benar menjadi fenomena. Semua itu dipengaruhi oleh media dan karakteristiknya yang membuat mereka tenar seketika.
Meskipun proses instan ini sudah muncul sejak awal 2000-an di Indonesia, ketika berbagai program pencarian bakat banyak diminati oleh masyarakat, namun fenomena Youtube jauh lebih hebat. Hanya dengan bakat alam yang dimiliki tanpa harus dipoles lagi, setiap orang siapapun dia bisa tiba-tiba menjadi terkenal dan mendadak jadi artis. Jika Anda tertarik, silakan belajar dari Briptu Norman dan kawan-kawan!
* Dimuat di Harian Analisa (Kamis, 14 April 2011)
Baca juga di http://analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=92270:youtube-dan-cara-cepat-jadi-artis&catid=976:14-april-2011&Itemid=215
Rabu, November 10, 2010
Hati-hati! Internet Bisa Rusak Anak Anda
Oleh: Adela Eka Putra MarzaPermasalahan remaja semakin hari semakin mengkhawatirkan dan semakin kompleks dengan semakin pesatnya kemajuan teknologi. Remaja saat ini mendapatkan kemudahan dengan bebas untuk menggunakan dan menikmati perkembangan teknologi itu. Tidak ada lagi sekat antara kebutuhan informasi dan teknologi dengan dampak dan pengaruhnya.
Lihat saja, rental-rental internet yang menjamur di mana-mana. Sudah tidak ada lagi batas dan aturan apalagi saringan akan isi internet tersebut. Film-film yang ditayangkan oleh berbagai media elektronik, cenderung menonjolkan perilaku-perilaku seksualitas yang dapat menyesatkan perilaku para remaja.
Demam Internet
Keberadaan warung internet (warnet) memang semakin menjamur belakangan ini. Hampir di setiap daerah di Kota Medan ini tersedia warnet untuk mengakses layanan teknologi informasi tersebut. Bahkan komputer dengan koneksi internet yang disediakan di setiap warnet pun tidak hanya satu-dua, tapi lebih dari jumlah jari tangan manusia.
Saking menjamur dan banyaknya warnet yang menyediakan akses untuk koneksi internet tersebut, sudah tidak susah lagi untuk menemukannya. Dengan fasilitas teknologi canggih tersebut, mengetahui dunia lain pun hanya seperti membalik telapak tangan. Dengan sekali klik, Anda sudah bisa melihat Menara Big Ben di London (Inggris) dan mengetahui sejarahnya, atau melongok daerah lainnya di belahan dunia lain.
Kecanggihan teknologi internet memang sangat memanjakan kita dengan segala fasilitasnya. Semua ilmu pengetahuan dan berita-berita terkini di setiap dunia tersedia di layar komputer ketika sudah terkoneksi dengan internet. Apalagi dengan layanan Google atau Yahoo yang dapat menghadirkan semua kebutuhan manusia akan ilmu pengetahuan. Semuanya bisa didapatkan dengan sekali klik ketika kita sedang browsing di internet.
Plus-Plus
Namun sayangnya, fungsi internet dewasa ini sudah mulai berubah, terutama di kalangan remaja. Keberadaan warnet yang menyediakan banyak film porno menjadi "penyakit" baru di tengah-tengah dunia remaja. Ini dapat meracuni pikirannya, bahkan bisa merusak sikap dan mental para remaja.
Informasi-informasi yang diperoleh remaja saat ini akan merangsang kematangan dan kegiatan seksualitas mereka menjadi lebih cepat dan bervariatif. Namun, jika itu didapat ketika mentalnya belum siap untuk menerima, maka akan membuahkan hal-hal negatif terhadap diri remaja.
Banyak warnet yang memang sudah kebablasan. Warnet yang biasanya disebut dengan istilah "warnet plus-plus" ini memang tidak hadir secara terbuka. Namun, mereka menyediakan film-film porno tersebut secara tersembunyi bagi para pelanggannya. Sehingga, sulit untuk dideteksi keberadaannya.
Namun biasanya, warnet-warnet seperti ini banyak beroperasi di sekitar kampus di Kota Medan. Bahkan, beberapa waktu lalu, pihak kepolisian pernah melakukan razia terhadap sejumlah warnet yang diduga melakukan praktik seperti itu. Beberapa warnet akhirnya dibongkar dan dilarang beroperasi.
Selain menyediakan film-film porno, ada juga warnet yang mengkhususkan ruangannya dalam bilik-bilik tertutup. Sehingga, seringkali juga para remaja melakukan hal-hal yang tidak senonoh dengan pasangannya di dalam bilik-bilik warnet tersebut. Meskipun sempit, ternyata mereka masih bisa melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh remaja seperti mereka.
Peran Penting Keluarga
Menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat ini, bimbingan dari orangtua sangat dibutuhkan untuk para remaja. Karena apapun namanya, orangtua tetaplah menjadi orang pertama yang paling dekat dengan seorang remaja. Orangtua memiliki peranan yang sangat besar dalam menentukan hidup seorang remaja.
Survei menemukan, ketika remaja diminta melaporkan siapa yang paling berpengaruh dalam memutuskan sesuatu dalam hidupnya, jawabannya adalah orangtua. Keputusan yang lebih dipengaruhi orangtua adalah keputusan yang berdampak besar terhadap remaja menjadi orang seperti apa mereka nantinya. Remaja dipengaruhi teman-temannya dalam soal tertentu saja, namun pengaruh orangtua tetap yang utama.
Setiap keluarga harus mengkomunikasikan ini dalam menjalin hubungan dengan yang lain. Masalah timbul bila cara mengkomunikasikan sesuatu itu salah, apalagi yang diberikan kepada remaja adalah komentar negatif. Makanya jangan segan untuk membumbui proses komunikasi yang baik dengan berbagai hal sesuai dengan keinginan dan cara berpikir remaja.
Orangtua yang proaktif perlu mengadakan forum keluarga, misalnya melalui acara makan malam bersama di meja makan, sambil mengakui kepada anak remajanya bahwa ia kini sudah remaja dan ingin diberi kebebasan dan tanggung jawab yang lebih besar. Alangkah bahagianya kalau hal itu bisa terjadi dengan mulus dalam keluarga.
Dengan cara demikian akan terwujud keluarga yang komunikatif dan harmonis, di mana ia dimulai dengan membiasakan keterbukaan dalam komunikasi keluarga, sehingga bisa diwujudkan saling pengertian serta penerapan peran dan fungsi masing-masing anggota keluarga. Semuanya dengan maksud agar tercipta keluarga yang bahagia.
Dengan demikian, institusi keluarga akan bisa mengoptimalkan peran dan fungsi anggota keluarga, mulai dari bapak, ibu dan anak. Dalam kondisi begitulah akan bisa dilakukan peningkatan ketahanan keluarga, terutama terkait dengan permasalahan para remaja kita yang merupakan generasi penerus keluarga dan bangsa. Maka permasalahan remaja saat ini pun akan bisa diatasi.
* Dimuat di Harian Analisa (Selasa, 9 November 2010)
Sumber:
http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=75167%3Ahati-hati-internet-bisa-rusak-anak-anda&catid=823%3A09-november-2010&Itemid=222
Sabtu, Juli 31, 2010
Menyaring Tayangan Televisi
Oleh : Adela Eka Putra Marza
Siaran televisi dianggap sebagai penyumbang kerusakan moral terhadap anak-anak. Karena sebagian besar kalangan menilai tayangan televisi saat ini banyak yang tidak memberikan nilai positif terhadap anak-anak. Malah banyak isi tayangan televisi yang tidak layak dikonsumsi anak-anak.
Makanya tak heran jika kemudian muncul seruan kampanye hari tanpa televisi pada Minggu, 25 Juli 2010. Melalui kampanye tersebut, sejumlah aktivis LSM berharap agar dapat mengurangi ketergantungan anak-anak atas tayangan televisi. Orangtua harus lebih memperhatikan pola kebiasaan anak menonton televisi. Harapannya, ketergantungan anak-anak akan siaran televisi bisa dikurangi. Karena normalnya anak-anak menonton televisi adalah dua jam dalam sehari dan harus didampingi orangtua.
Dalam kampanye yang digalakkan pada peringatan Hari Anak Nasional, 23 Juli kemarin itu, para aktivis menghimbau keluarga Indonesia untuk tidak menghidupkan televisi pada hari Minggu tanggal 25 Juli. Disarankan kepada warga Indonesia, agar pada hari Minggu tersebut, memberikan hiburan lain bagi anak-anak, seperti pergi main ke taman, menggambar, dan hal lain yang mendidik.
Media Infomasi ke Media Bisnis
Televisi adalah metamedium, instrumen yang tidak hanya mengarahkan pengetahuan tentang dunia, seperti dikatakan Dedi Mulyana (1997). Televisi menawarkan ideologinya sendiri yang khas. Dengan tayangan yang batas-batasannya begitu cair: berita, fiksi, propaganda, bujukan (iklan), hiburan, dan pendidikan, Televisi mencampuradukkan berbagai realitas pengalaman kita yang berlainan: mimpi, khayalan, histeria, kegilaan, halusinasi, ritual, kenyataan, harapan, dan angan-angan, sehingga kita sendiri sulit mengidentifikasi pengalaman kita yang sebenarnya.
Televisi pada hakikatnya melakukan penetrasi yang lebih besar terhadap kehidupan kita dari pada ideologi-ideologi konvensional yang kita kenal selama ini. Hanya saja caranya begitu halus sehingga sulit terdeteksi.
Sejatinya, televisi berfungsi sebagai media komunikasi, informasi, dan dengan sendirinya pendidikan. Tentu saja tidak ada yang kontroversial dengan fungsi tersebut. Barulah pada sisi sebagai media bisnis, silang pendapat muncul karena persepsi, perspektif, dan kepentingannya kemudian bisa menjadi berbeda-beda. Dalam bisnis, kata keramat yang diagung-agungkan adalah mengeluarkan biaya serendah-rendahnya, dengan keuntungan setinggi-tingginya.
Dalam konteks pertelevisian, dicari cara bagaimana menekan biaya produksi serendah-rendahnya, dan mencari iklan sebesar-besarnya. Tentu saja, sesungguhnya prinsip itu merupakan sesuatu yang normal saja. Namun ketika demi bisnis terjadi eksploitasi berlebihan, asas keadilan menjadi terusik. Sisi perasaan publik terabaikan, dan itu yang harus dipersoalkan, mengingat tingkat penetrasi televisi yang tinggi.
Ancaman Bagi Budaya Lokal
Masalahnya sekarang, televisi tidak hanya memberikan ruang diplomasi virtual, tetapi juga menciptakan kesadaran baru. Media ini memberikan proses learning social norms yang lebih intensif daripada lainnya. Tentu saja dampaknya bisa baik, dan bisa buruk. Namun jika televisi dihadapi dengan ketidakkritisan, ia lebih cenderung berakibat buruk. Dan sayangnya, masyarakat Indonesia tidak berada dalam situasi imunitas yang baik pula. Setidaknya, daya ekonomi, daya nalar, daya persepsi, daya abstraksi, dan daya tawar, tidak terdukung dengan sistem kebudayaan yang memadai. Tingkat kesiapan dan keterdidikan masyarakat Indonesia sangat rentan untuk mudah digoda.
Salah satunya, pengetahuan masyarakat dewasa ini tentang budaya lokal. Betapa minimnya pengetahuan masyarakat sekarang terhadap akar budayanya sendiri. Sistem budaya lokal yang seharusnya berfungsi membuat masyarakat bertahan hidup dan relatif tentram, kini setelah mengalami sinkronisasi budaya, justru menyebabkan masyarakat bingung, gagap, tak berdaya, mengalami konflik dan geger budaya di negara mereka sendiri. Televisi telah memberi andil terhadap hal tersebut, penurunan bahkan kepunahan budaya lokal.
Ketika tidak munculnya budaya-budaya lokal di layar kaca, secara bersamaan sirna pula dalam ingatan warganya. Pada saat tertentu, ketika generasi baru muncul, mereka tidak menemukan sebuah tradisi dan budaya yang telah dilestarikan nenek moyangnya pada tontonan mereka. Akhirnya jangan aneh jika mereka merasa asing terhadap berbagai pagelaran musik dan budaya tradisional, baik calung, angklung, wayang, jaipong, bahasa daerah dan budaya lokal lainnya.
Lihat saja program-program televisi di negeri kita saat ini. Banyak sekali tayangan yang tak jelas manfaat dan nilai-nilainya bagi masyarakat. Sinetron yang memberikan gambaran prilaku konsumtif, pergaulan bebas, kekerasan, sama sekali tak cocok dengan nilai-nilai orang Timur yang kita anut. Apa yang bisa kita pelajari dari tayangan-tayangan tersebut?
Malah ibu-ibu larut berjam-jam di depan televisi hanya untuk menyaksikan kelanjutan nasib si tokoh utama dalam sinetron favoritnya yang tak habis-habis. Para remaja sibuk dengan pergaulan bebasnya, tak terkontrol lagi. Anak-anak sudah mulai belajar main kekerasan dengan teman-teman sekolahnya. Apakah itu yang mau kita dapatkan?
Perilaku yang ditirukan remaja dan anak-anak kita tidak sekedar bersifat fisik dan verbal, melainkan justru nilai-nilai yang dianut tokoh-tokoh yang dilukiskan dalam acara-acara televisi. Pengaruh televisi memang tidak langsung terlihat, namun terpaan yang berulang-ulang pada akhirnya dapat mempengaruhi sikap dan tindakan pemirsa. Dengan kata lain, pengaruh televisi boleh jadi bersifat jangka panjang, substil, dan sulit dibuktikan lewat penelitian-penelitian yang biasa dilakukan.
Kepentingan Modal atau Moral (?)
Ketika media massa seperti televisi tunduk kepada kepentingan modal, kepentingan moral untuk masyarakat bisa menjadi ambivalen. Bahkan, media massa bisa tidak mempunyai kepekaan atas perasaan masyarakat. Media massa bisa kehilangan imajinasi dan fantasinya tentang masyarakat. Yang ia lihat, masyarakat adalah sederetan angka penting. Semakin tergantung masyarakat padanya, media massa itu akan semakin merasa sukses.
Seharusnya para pengelola televisi sendiri bisa memikirkan bagaimana membuat program-program yang bermutu, menarik secara memberdayakan masyarakat, selain secara finansial menguntungkan. Jangan hanya sekedar menghitung, berapa keuntungan yang harus didapatkan dari program-program sinetron yang tak jelas juntrungan dan manfaatnya.
Kita lupa bahwa mayoritas masyarakat kita kurang terdidik, dan karenanya kurang kritis, termasuk mereka yang berada di pedesaan. Kita juga lupa bahwa sebagian besar dari pemirsa adalah anak-anak yang cenderung meniru apa yang mereka lihat dari televisi. Karenanya, keberadaan benda ini sangat besar pengaruhnya dalam proses pembentukan pola pikir dan karakter perilaku suatu masyarakat. Sehingga keberadaannya sangat penting dalam melakukan propaganda untuk kepentingan-kepentingan tertentu.
Semua ini memang tak bisa juga hanya menyalahkan para pengelola televisi. Kita juga harus melihat tingkat kesanggupan masyarakat kita untuk menerima semua konten tayangan televisi. Setiap individu, keluarga dan masyarakat memiliki tugas masing-masing untuk senantiasa membentengi dan mengingatkan diri sendiri, keluarga dan masyarakat dari berbagai pengaruh asing yang datang dan menggerogoti melalui televisi.
Kita harus berani mengambil sikap tegas dalam membentengi diri kita sendiri dan keluarga terutama, untuk menghindari nilai-nilai negatif dari televisi. Atau lebih mudahnya, kita harus berani mematikan televisi ketika acara yang ditayangkan tidak bermanfaat. Seperti yang ditulis Sunardian Wirodono (2006) dalam bukunya tentang dampak negatif televisi; "Bunuh saja, TV-mu!"
* Dimuat di Harian Analisa (Sabtu, 31 Juli 2010)
Sumber:
http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=63763:menyaring-tayangan-televisi&catid=78:umum&Itemid=131
Sabtu, Mei 15, 2010
Pemuda dalam Kemerdekaan Teknologi
Oleh: Adela Eka Putra Marza
"Di manapun di negeri ini, perubahan itu datang dari orang muda." Itulah yang dikatakan seorang profesor kepada Saya beberapa waktu lalu. Jika kita melihat jauh ke belakang, perjuangan kemerdekaan
Bahkan Bung Karno, tokoh besar bangsa
Di zaman yang serba berteknologi canggih sekarang, jiwa kaum muda tentu tak hanya sekedar semangat menggebu-gebu saja. Jiwa-jiwa yang penuh perubahan itu harus diselaraskan dengan penguasaan terhadap kemajuan teknologi. Karena kehidupan manusia sekarang sudah tak bisa lagi dipisahkan dari pergerakan dunia teknologi.
Information Communication Technology (ICT) atau teknologi komunikasi informasi adalah salah satu tonggak peradaban dunia saat ini. Mulai dari televisi, handphone, hingga internet sudah menjadi bagian dalam kehidupan kita. Malah teknologi mengambil satu posisi penting dalam kehidupan manusia. Alat-alat canggih tersebut sudah menjadi bagian pelengkap dalam perkembangan dunia, termasuk dalam refleksi jiwa kaum muda.
Dalam Digital Grown Up (2009), Dan Tapscott bertutur soal datangnya era konektivitas. Zaman di mana semua sendi kehidupan, dari yang substansial hingga hal remeh-temeh, terakomodasi pada medium teknologi koneksi sosial internet. Pertanyaan tentang buku baru atau harga sebuah buku, misalnya, tak lagi ditanyakan kepada teman kuliah yang baru pulang dari toko buku. Namun, cukup diketikkan kata kunci pada mesin pencari (search engine).
Menguasai Teknologi
Pemuda sebagai ujung tombak perubahan tentu harus bisa menguasai perkembangan teknologi ini. Pemuda harus mampu memanfaatkan teknologi untuk terus mengobarkan perubahan menuju kemajuan ke arah yang lebih baik bagi negeri ini. Karena perjuangan sekarang bukan lagi bergerilya di dalam hutan. Perjuangan di zaman serba canggih ini adalah peperangan dalam menguasai teknologi-teknologi serba mutakhir.
Tidak bisa kita pungkiri jika masih banyak masyarakat kita yang masih gagap dengan teknologi. Belum adanya kemerdekaan teknologi ini terutama terjadi di daerah-daerah pelosok yang pastinya belum tersentuh oleh alat-alat komunikasi dan informasi yang berbasis teknologi. Jangankan ingin memikirkan perkembangan teknologi, untuk memikirkan besok mau makan pakai apa sudah begitu banyak menyita waktu mereka.
Di sinilah kemudian muncul permasalahan jurang digital (digital divide) di tengah-tengah masyarakat kita. Banyak warga terutama di daerah-daerah di mana infrastruktur teknologi masih belum menyentuh kehidupan mereka, tentu saja tak mampu mengoperasionalkan perangkat teknologi tersebut. Kesenjangan ini nantinya tentu saja dapat merintangi laju perkembangan sosial dan ekonomi, serta meninggalkan wilayah-wilayah yang lebih miskin jauh di belakang.
Masalah digital divide semakin menyulitkan kita untuk mendapatkan kemerdekaan teknologi tersebut. Penerapan melek teknologi secara meluas di kalangan warga akan terasa lambat, karena ditambah lagi dengan sejumlah hambatan dalam aspek demografi, perilaku, budaya, fungsional, dan juga teknologi. Teknologi akhirnya menjadi penyebab jurang komunikasi yang semakin lebar di dalam masyarakat.
Pada bagian inilah kemudian tugas generasi muda bertambah satu lagi, membebaskan masyarakat
Usaha ini memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa berhasil. Hanya memang membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengimplementasikannnya dan kemudian dapat melihat hasilnya. Selan itu, juga membutuhkan biaya yang lebih besar. Namun pastinya, tidak ada yang tidak bisa dilakukan. Semuanya harus dicoba. Tentu saja ini tanggung jawab yang besar bagi para generasi muda
Hati-hati
Kemerdekaan teknologi dalam judul di atas juga bisa bermakna ganda. Pertama, tentu saja soal penguasaan teknologi yang seharusnya dapat diaplikasikan oleh pemuda zaman sekarang dalam setiap sendi kehidupannya dan dalam bermasyarakat. Tentu juga dengan mendorong penguasaan teknologi tersebut bagi lingkungan sekitar dan mayarakat sendiri. Bagian ini sudah dibahas dalam pemaparan di atas.
Namun ada satu lagi makna yang bisa jadi muncul dalam mengartikan "kemerdekaan teknologi" tersebut. Soal siapa yang membutuhkan dan siapa yang dibutuhkan, akan teknologi dan oleh teknologi itu sendiri. Maksudnya, soal kebutuhan kita akan teknologi tersebut. Jangan sampai terjadi malah kita yang mengalami ketergantungan terhadap teknologi.
Sudah tidak heran lagi, melihat para pemuda di zaman sekarang malah dikuasai oleh teknologi itu sendiri. Semuanya ingin serba cepat dan instan, sehingga kemudian melupakan esensi proses dalam persoalan tersebut. Lihat saja dengan para pelajar yang misalnya lebih memilih melakukan copy-paste terhadap karya orang lain untuk menyelesaikan tugasnya, ketimbang membolak-balik dan membaca sebuah buku, kemudian mengetikkannya di komputer. Fenomena tersebut sudah tidak asing lagi di kalangan pelajar.
Atau, mungkin kasus terbaru soal ketergantungan terhadap teknologi adalah fenomena Facebook yang sedang mewabah ditengah-tengah generasi muda. Bayangkan saja, teknologi tak lagi untuk membangun perubahan bagi bangsa, tetapi malah membuat kaum muda berubah menjadi individualis. Semua orang sibuk ber-chatting-ria di Facebook, sehingga tak sempat lagi memikirkan apa yang akan dilakukannya untuk membangun bangsa. Bahkan budaya diskusi dan ngumpul bareng sudah mulai hilang ditelan fenomena Facebook.
Ini adalah salah satu bentuk ketergantungan kita terhadap teknologi. Pastinya hal ini terjadi karena kekurangsiapan kita untuk menerima kehadiran teknologi tersebut. Oleh karena itu, dari awal kaum muda harus sudah menyiapkan diri untuk menguasai teknologi tersebut, bukan malah sebaliknya, dikuasai oleh teknologi.
Satu hal yang harus selalu diingat, teknologi diciptakan untuk membantu pekerjaan manusia agar lebih ringan. Bukan berarti hal tersebut agar kita melupakan proses dari pekerjaan tersebut. Apalagi jika kita malah mengalami ketergantungan terhadap teknologi itu sendiri. Lebih parahnya tentu saja ketika ada pihak-pihak yang malah menyalahgunakan teknologi tersebut untuk hal-hal yang tidak berguna, bahkan untuk tindakan kriminal.
Pastinya, kita sebagai pemuda harus terbebas dari kebodohan dan cengkeraman teknologi itu sendiri. Bagi negara-negara berkembang seperti
* Dimuat di Harian Global (Sabtu, 15 Mei 2010)
Sumber:
http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=37053:refleksi-hari-kebangkitan-nasional-pemuda-dalam-kemerdekaan-teknologi&catid=57:gagasan&Itemid=65
